92 TAHUN MOTIVASI YANG MEMUDAR
Negara Kesatuan Republik Indonesia lahir melalui fase sejarah panjang
dari suatu bangsa besar. Sejak Nusantara sampai Jepang ada dalam catatan
sejarahnya. Bukti besarnya bangsa ini adalah warisan para leluhurnya. Bukan
saja keanekaragam kebudayaan tapi juga nilai-nilai luhur kehidupan. Belum lagi
kekayaan dan keindahan alamnya, semua anugerah Tuhan yang luar biasa, yang
diterima sebagai amanah untuk dijalani, sebagai bangsa sekaligus sebagai
manusia yang khalifah. Wakil Tuhan di muka bumi. Leluhur bangsa ini sudah
mewariskannya dalam falsafah mamayu hayuning bawono.
Warisan
nilai-nilai luhur kehidupan yang meresap ke dalam jiwa bangsa menjadi cikal
bakal lahirnya NKRI. Sejarah mencatat momentum manifestasi otentik dari
kesepakatan komunal untuk bersatu yang dikenal dengan Sumpah Pemuda pada 1928.
Semangat persatuan yang otentik dan orisinal itu sebagai ekspresi kontinuitas
kebangsaan Indonesia dari zaman-zaman sebelumnya yang semestinya diteruskan
oleh NKRI 1945.
Berbangsa satu, bangsa Indonesia,
seluruh penduduk kepulauan Nusantara menomorwahidkan kesatuan sebagai
Bangsa Indonesia, tanpa mengingkari atau menghilangkan latar belakang etnis
atau kesukuan masing-masing.
Bertanah air satu, tanah air Indonesia,
menyatu sebagai sebuah keluarga besar yang tinggal di rumah yang sama,
yakni tanah air Indonesia.
Berbahasa satu, bahasa Indonesia,
mengabdikan seluruh latar belakang bahasa masing-masing untuk
kepentingan masa depan bangsa dalam komunikasi nasionalisme dan terbangunnya
kebudayaan dan peradaban Indonesia.
Namun nampaknya, sekarang
entah mengapa semangat komunalitas kebangsaan itu seperti meredup. Apakah NKRI
1945 tidak mewarisi semangat-semangat itu?, Jika iya, apakah sebabnya?, Tidak
percaya diri ?, Ada disoriented jati diri bangsa ?, Atau nampaknya generasi
penerus punya cita-cita lain terhadap bangsa ?, Atau malah Menjadi ekor dari
kemajuan dunia?, Dan Terlalu banyak mengadopsi muatan-muatan dari luar kah?
Dan apapun itu ...!!!
Disclaimer saya,
yang jelas Bangsa Indonesia sekarang nampaknya sedang kehilangan dirinya,
nilai-nilai orisinal kebangsaan dan kemanusiaannya, filosofi dan budayanya, dan
semakin rendah pencapaian materialismenya maupun kadar rohaniahnya.
Maka dari itu,
seenggaknya kita mesti bersepakat, sumpah pemuda harus tetap membumi. Pemaknaan
dan spiritnya jauh lebih luas. Sumpah pemuda menjadikan Indonesia bebas dari
penjajahan modern. Sumpah pemuda tak membiarkan ‘perut buminya’ dirampas.
Sumpah pemuda berlomba berbuat kebaikan (bukan keburukan). Sumpah pemuda
mengisi sendi pengabdian. Sumpah pemuda yang menjunjung kebersamaan dan
menghargai setiap perbedaan. Sumpah pemuda menjaga moralitas, etika dan
kearifan budaya kita. Sumpah pemuda berani melawan kemiskinan dan ketidakadilan.
Sumpah pemuda menggapai tujuan mulia. Sumpah pemuda semangatnya tak surut
(semoga).
Dan terkahir, persoalan utama yang harus segera dituntaskan bangsa sekarang ini adalah kembali kepada nilai-nilai persatuan. Mustahil melaksanakan program sekecil apapun untuk bangsa yang multi kultural ini tanpa landasan persatuan yang sudah diamanatkan oleh pendahulu kita 17 tahun sebelum NKRI 1945 sebagai bangsa dan negara, tepat 92 tahun yang lalu.
Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2020. Kita Indonesia, Semoga kuat, dan Semoga bijaksana.
Bersatu dan Bangkit
hasbiyallah...
oleh lerespati

