Selasa, 15 September 2020

MUSLIM YANG SESUNGGUHNYA

MUSLIM YANG SESUNGGUHNYA

 Muslim Yang Sesungguhnya


Oleh : Mohamad Sahal Muiz

    Saya sebagai santri dan tentunya sebagai pelajar, akhir-akhir ini mengamati “dari jauh” berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia, baik itu persoalan publik maupun persoalan antar golongan (ormas islam). Ada beberapa kelompok (muslim) yang saling menyerang, mencerca atau mengintimidasi satu sama lain, terlepas dari kepentingan politik masing-masing kelompok ataupun mengatasnamakan “agama” untuk menjadi senjata ampuh dalam meng-counter lawanya itu tadi.

   Mari kita amati, sebenarnya konflik-konflik  Seperti ini yang terjadi itu pemicu dasarnya apa? Apakah mereka menganggap paling benar dalam beragama? Atau hanya alih-alih saja mengatasnamakan agama untuk kesuksesan sepak terjang politiknya?.

  Kembali ke pembahasan awal, lalu siapakah muslim sejati? Bagaimana kriterianya? Apakah cukup dikatakan “muslim” jika dilihat dari aspek luarnya saja ? Atau harus mengibarkan simbol” kalimat “Mu’adzom”? Jawabanya tentu tidak !.

    Karena begini, sejatinya islam adalah agama yang mengedepankan “intuisi” (aspek batin), atau dalam bahasa arab حبل الله "ada keterikatan batin antara hamba dan sang pencipta”. Baru setelah itu islam mengajarkan cara kita beretika sosial yang baik حبل النّاس. Jadi, hampir tidak sama sekali, islam mengatur umatnya untuk cara berpakaian harus pake jubah atau sorban maka kamu baru dikatakan orang islam, atau apapun yang diasumsikan oleh sebagian orang bahwa itu adalah pakaian atau simbol-simbol yang “islami”.

    Ada yang memakai jubah, sorban dengan dalih itu sunnahnya nabi karena nabi pake jubah plus sorban , jika memang mereka memakai alasan itu kenapa sikap dan ucapanya sama sekali tdk mencerminkan seperti nabi?, mereka diakui ulama oleh sebagian orang, juga mereka meng”ulamakan” diri, tapi ucapan dan tindakannya sama sekali tdk mencerminkan sebagai ulama dan orang islam tentunya. Ceramah isinya hanya provokasi, menjelek-jelekan satu sama lain, memfitnah sana sini sekaligus yang paling parah mereka menjustis semua kelompok yang berbeda dengan mereka itu salah, sesat bahkan sampai pada titik kafir! Apakah itu yang dinamakan islam? Apakah ajaran-ajaran islam seperti itu?.

   Mari bermuhsabah, intropeksi diri apakah kita sudah menjadi muslim yang baik? Atau jangan-jangan hanya pura-pura muslim? Apa benar perbuatan yang selama ini kita lakukan itu sesuai dengan norma-norma agama islam? Mengejek, memprovokasi, memfitnah juga mengkafirkan sesama muslim, apa itu ajaran islam?

Muslim yang sejati kata nabi :

المسلم مَن سلِم المسلمون مِن لسانه ويده   

   “Muslim yang sejati adalah yang mampu menjamin keselamatan orang muslim lainnya dari ucapan dan tindakanya”      

 

Wallahu ‘alam

BACA JUGA ; Beragama Dengan Akal Sehat 

Minggu, 13 September 2020

BERAGAMA DENGAN AKAL SEHAT

BERAGAMA DENGAN AKAL SEHAT


Kajian al-munqidz min al-dholal

 

Oleh : Mohammad Sahal Muiz

   Paparan mengenai relasi atau keterkaitan antara agama dan akal, berangkat dari beberapa argumentasi baik argumentasi yang melegitimasi atau yang tidak melegitimasi antara pentingnya peranan akal dalam beragama.  Saya akan memaparakan paradigma pemikiran Al Ghazali mengenai pentingnya peranan akal dalam beragama.

   Al Ghazali tidak setuju atau mengkritik pendapat para filsuf yang non muslim yang mengatakan bahwa ketika kamu beragama maka tinggalkanlah sesuatu yang bersifat ‘Aqliyyah (rasional). Pendapat filsuf ini berangkat dari analisis dia yang memahami bahwa “ketika kita beragama ya seharusnya meninggalkan hal-hal yang berbau rasional”. Karena memang konsep atau ajaran agama yang kita implementasikan dalam kehidupan sehari hari itu sama sekali tidak rasional. Misalnya ketika kita melakukan sholat 5 waktu atau kenapa kok kita melakukan sholat subuh 2 rakaat sedangkan shalat dzuhur 4 rakaat dan sebagainya. Paradigma pemikiran seperti ini tidak sepenuhnya benar, atau bahkan bisa salah sama sekali. Karena begini, dalam beragama seharusnya atau bahkan wajib bagi kita untuk selalu mengimbangi itu dengan rasionalitas, karena tuhan sendiri yang memberikan akal kepada kita, lalu juga mengfungsikan pernan akal itu. Jadi, kata Al Ghazali, paradigma pemikiran seperti ini tidak bisa dijadikan argumentasi yang tepat.

    Sebaliknya ketika filsuf non muslim mengatakan bahwa pada saat kamu “menghamba” rasionalitas sepenuhnya dalam kehidupan sehari hari, juga pada saat itu kamu sedang tdk beragama. kata dia karena memang keduanya dikotomis. Lah paradigma pemikiran seperti ini juga dikritik oleh Al Ghazali bahwa peranan keduanya itu sangat integral dan saling terkait, kita belum bisa dikatakan orang yang beragama jika kita menafikan atau mengabaikan argumentasi rasional, lanjut kata Al Ghazali, semuanya mempunyai relasi yang penting dan tdk bisa dipisahkan. Meminjam bahasa Sayyidina Ali yaitu

الدين هو العقل ,لا دين لمن لا عقل له.

“Pada dasarnya agama itu adalah bersifat rasional, maka seseorang blm bisa dikatakan beragama jika tdk memerankan akalnya”.

    Kita semua tahu misalnya, mengapa Islam tidak membebani isi atau ajaran-ajaran agama kepada orang yang belum bisa mengfungsikan akalnya dengan baik ??, Atau dalam bahasa agama yaitu taklif, pembebanan. Orang yang wajib melakukan ajaran-ajaran agama salah satunya harus aqil, atau bisa mengfungsikan akalnya dalam menjalani kehidupan beragama. Misalnya ada seseorang sudah baligh, tapi belum berakal atau belum bisa mengfusngsikan akalnya, maka dia tidak terbebani untuk melakukan ajaran-ajaran agama, seperti anak kecil, orang gila,dsb.

   Maka dari itu kata Al Ghazali, peranan keduanya sangat penting dan tidak bisa dipisahkan karena kita diberikan oleh Allah swt akal untuk memfilter segala apa yang diajarakan dalam agama, jika sudah demikian, artinya jika kita sudah bisa beragama sekaligus bisa memerankan rasionalitas kita, maka kita sudah bisa menjadi umat islam yang progresif, Yaitu tidak anti terhadap hal-hal rasionalis selama hal itu tidak bertenangan dengan syariat dan juga tentunya tidak anti terhadap hal-hal yang berbau dogma agama, selama kita mau belajar dan terus mendalami ajaran itu.

 Wallahu ‘alam.