Minggu, 13 September 2020

BERAGAMA DENGAN AKAL SEHAT


Kajian al-munqidz min al-dholal

 

Oleh : Mohammad Sahal Muiz

   Paparan mengenai relasi atau keterkaitan antara agama dan akal, berangkat dari beberapa argumentasi baik argumentasi yang melegitimasi atau yang tidak melegitimasi antara pentingnya peranan akal dalam beragama.  Saya akan memaparakan paradigma pemikiran Al Ghazali mengenai pentingnya peranan akal dalam beragama.

   Al Ghazali tidak setuju atau mengkritik pendapat para filsuf yang non muslim yang mengatakan bahwa ketika kamu beragama maka tinggalkanlah sesuatu yang bersifat ‘Aqliyyah (rasional). Pendapat filsuf ini berangkat dari analisis dia yang memahami bahwa “ketika kita beragama ya seharusnya meninggalkan hal-hal yang berbau rasional”. Karena memang konsep atau ajaran agama yang kita implementasikan dalam kehidupan sehari hari itu sama sekali tidak rasional. Misalnya ketika kita melakukan sholat 5 waktu atau kenapa kok kita melakukan sholat subuh 2 rakaat sedangkan shalat dzuhur 4 rakaat dan sebagainya. Paradigma pemikiran seperti ini tidak sepenuhnya benar, atau bahkan bisa salah sama sekali. Karena begini, dalam beragama seharusnya atau bahkan wajib bagi kita untuk selalu mengimbangi itu dengan rasionalitas, karena tuhan sendiri yang memberikan akal kepada kita, lalu juga mengfungsikan pernan akal itu. Jadi, kata Al Ghazali, paradigma pemikiran seperti ini tidak bisa dijadikan argumentasi yang tepat.

    Sebaliknya ketika filsuf non muslim mengatakan bahwa pada saat kamu “menghamba” rasionalitas sepenuhnya dalam kehidupan sehari hari, juga pada saat itu kamu sedang tdk beragama. kata dia karena memang keduanya dikotomis. Lah paradigma pemikiran seperti ini juga dikritik oleh Al Ghazali bahwa peranan keduanya itu sangat integral dan saling terkait, kita belum bisa dikatakan orang yang beragama jika kita menafikan atau mengabaikan argumentasi rasional, lanjut kata Al Ghazali, semuanya mempunyai relasi yang penting dan tdk bisa dipisahkan. Meminjam bahasa Sayyidina Ali yaitu

الدين هو العقل ,لا دين لمن لا عقل له.

“Pada dasarnya agama itu adalah bersifat rasional, maka seseorang blm bisa dikatakan beragama jika tdk memerankan akalnya”.

    Kita semua tahu misalnya, mengapa Islam tidak membebani isi atau ajaran-ajaran agama kepada orang yang belum bisa mengfungsikan akalnya dengan baik ??, Atau dalam bahasa agama yaitu taklif, pembebanan. Orang yang wajib melakukan ajaran-ajaran agama salah satunya harus aqil, atau bisa mengfungsikan akalnya dalam menjalani kehidupan beragama. Misalnya ada seseorang sudah baligh, tapi belum berakal atau belum bisa mengfusngsikan akalnya, maka dia tidak terbebani untuk melakukan ajaran-ajaran agama, seperti anak kecil, orang gila,dsb.

   Maka dari itu kata Al Ghazali, peranan keduanya sangat penting dan tidak bisa dipisahkan karena kita diberikan oleh Allah swt akal untuk memfilter segala apa yang diajarakan dalam agama, jika sudah demikian, artinya jika kita sudah bisa beragama sekaligus bisa memerankan rasionalitas kita, maka kita sudah bisa menjadi umat islam yang progresif, Yaitu tidak anti terhadap hal-hal rasionalis selama hal itu tidak bertenangan dengan syariat dan juga tentunya tidak anti terhadap hal-hal yang berbau dogma agama, selama kita mau belajar dan terus mendalami ajaran itu.

 Wallahu ‘alam.


Tags :

bm

Syadad Kaisinnabil

Seo Construction

I like to make cool and creative designs. My design stash is always full of refreshing ideas. Feel free to take a look around my Vcard.

  • Syadad Kaisinnabil
  • Februari 24, 1989
  • 1220 Manado Trans Sulawesi
  • contact@example.com
  • +123 456 789 111

Posting Komentar