Rabu, 09 September 2020

BIARKAN PESANTREN TETAP MENJADI DUNIA LAIN INDONESIA

BIARKAN PESANTREN TETAP MENJADI DUNIA LAIN INDONESIA


    Ciri khas yang paling mencolok dalam tradisi intelektual pesantren adalah jaringan, silsilah, sanad, ataupun genealogi musalsal untuk menetukan tingkat efisoterisitas dan kualitas ke’ulamaan seorang intelektualis. Hal ini pula yang membedakan tradisi intelektual pesantren dengan misalnya tradisi intelektual di lingkungan kampus dan bahkan lembaga pendidikan islam lainya. Tradisi intelektual semacam ini bisa atau boleh di bilang melampaui batas linieritas eksotologis pengetahuan keislaman, yang biasa di sebut dengan ‘ilm al jaliy oleh pengkaji pemikiran lbn al-qayyim al-jauziyyah.

    Hal ini cukup bisa di maklumi, mengingat tingkat eksotologis intelektual pesantren, selain menekankan sisi faktual ontropogesis pengetahuanya, juga sedikit banyak menyisipkan sisi efisetorisitas intelektual. Dengan demikian dalam tradisi pesantren, orang yang pandai agama tidak serta merta di sebut kiai atau ulama’, kalau ilmunya tidak jelas dari mana tendensi dan referensinya. Dan kalau di telusuri, hal ini ternyata  terpaut dengan psinsip pengajaran pesantren, bahwa “man la syaikha lahu, fa syakhuhu as-syaithanu”, meskipun ada buku.           Mungkin hal ini yang di sebut dengan primodialisme pesantran: tetapi yang jelas keberadaan jaringan intelektual sangat menentukan penerimaan dan pengakuan massa terhadap seorang ulama’ atau kiai. Hal ini di sebabkan penerimaan massa terhadap ajaran kiai bukan hanya di landasi prinsip prinsip otentisitas, melainkan juga -yang sebenarnya lebih penting- adalah orisinilitas pengetahuan yang di ajarkan. Biasanya tanpa di verbalkan sekalipun, memang sudah ada semacam keharusan penjelasan dari kiai dalam tradisi pesantren, misalnya kiai yang bersangkutan belajar kepada siapa, guna bisa di pastikan bahwa ajaran yang di berikan memang benar-benar bermuara kepada si ‘’empunya’’ otoritas agama. Begitupun tanpa harus di minta, kiai biasanya juga menjelaskan ia pernah berguru dengan siapa dan belajar apa kepadanya.

    Untuk mempertahankan tradisi ini, dalam discourse kekinian dan ke’ulamaan juga telah di pasang “pagar-pagar pengamanan”, berupa rumus seseorang bisa di katakan ‘alim. Yaitu karena memang belajar dan mempunyai guru yang biasa di sibut oleh pengkaji pemikiran al-ghazali dengan al-ilmu bi al-ta’allum. Atau seseorang bisa alim karena ladunni, atau kepandaian yang langsung di anugerahkan tuhan kepada orang-orang terpilih, yang dalam bahasa pengkaji al-ghazali biasa di sebut dengan al-ilmu bi al-taqarrub. Yaitu ilmu yang di peroleh sebagai spiritual impact. Kepandaian yang ke dua ini biasanya di miliki oleh keturunan kiai atau santri yang biasa menjalani laku spiritual exercise atau yang biasa di sebut tirakatan. Biasanya keturunan kiai yang mempunyai keahlian ini bisa di lihat dari perilaku aneh dan cenderung mbedik di masa mudanya, tapi berubah total dengan menjadi alim di masa dewasanya.

  Hingga kini, bisa di katakan belum ada yang dapat membuktikan secara empiris rahasia proses kepandaian orang orang khass yang mempunyai kelebihan ilmu ladunni tersebut. Namun yang pasti ajaran yang di bawakanya di anggap otentik layaknya kiai yang memiliki jaringan intelektual. Walhasil, mereka bisa di terima di lingkungan pesantren dan masuk ke dalam susunan pemyambung jaringan intelektual, karena memang kepandaian seperti ini biasanya hanya di miliki oleh keturunan kiai, atau orang orang majdzub, yang sudah barang tentu mempunyai jaringan intelektual.  

  Secara umum, Genealogi intelektualisme pesantren memang dapat di ketahui secara pasti. Dan jika ada sebagian kecil kiai yang tidak di ketahui pasti genealogi intelektualnya, mereka adalah golongan kiai yang memiliki ilmu ladunni. Dengan demikian, presepsi yang menyebutkan tradisi intelektualisme pesantren sangat memperhatikan aspek sanad, jaringan dan silsilah kelimuan memang benar adanya, laula al-isnadu laqala man sya’a, ma sya’a.

 Titik tekan inilah yang sekaligus menjadikan studi tentang intelektualisme pesantren menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Hal ini di sebabkan, meskipun akar-akar tradisi intelektualisme pesantren relatif sama dan  tradisional, namun ekspresi yang di tampilkan oleh tokoh pesantren ternyata sangat beragam, sehingga melibatkan banyak elemen dan variabel tertentu. Di  dunia pesantren terdapat misalnya, syekh siti jenar, hamzah fansuri, syamsuddin al sumaterani dan abd al hamid abulug yang bisa di bilang secara ideologi berseberangan dengan walisongo, nuruddin al raniri, maupun muhammad arsyad al banjari dan sebagainya. Di mana masing masing kubu mempunyai jaringan tesendiri. Inilah yang menyebabkan pelacakan jaringan intelektualisme pesantren menjadi tidak gampang.

  Kesulitan itu kembali bertambah di karenakan kajian intelektualisme pesantren tergolong bidang kajian yang terlantar. Mungkin karena sudah terlanjur penyitraan pesantren sebagai komunitas tradisional, sehingga kalaupun ada penelitian tokoh tokoh pesantren, hal itu hanya hanya terbatas pada sudut pandang kapabilitas mereka berkontestasi di panggung perpolitikan dan kekuasaan. Ini dapat di buktikan lebih banyaknya buku dan karya-karya tentang tokoh pesantren dalam pergulatan politik dan kekuasaan dari pada karya yang mengulas tentang jaringan intelektualisme pesantren.

  Padahal kalau di kaji secara mendalam jaringan intelektualisme pesantren sebetulnya sangat menarik. Bahkan tidak menutup kemungkinan pekerjaan ilmiah ini juga membalikkan penyitraan publik, kalau intelektualisme pesantren tidak sepenuhnya tradisional. Selain itu juga bisa menepis asumsi adanya kesenjangan intelektual muslim nusantra dengan dunia islam secara umum. Karena dalam sejarah intelektualisme pesantren, pernah berdiri sederet  tokoh sarungan, tapi intelektualitasnya sangat berkaliber taraf internasional dan menjadi guru besar di pusat islam, Haramain (makkah-madinah). Sebutlah Syeikh Nawawi Al Bantani, Syeikh Mahfudz Al Termasi, Syeikh Yasin Al Fadani dan lain sebagainya termasuk Murabbi Ruhina KH MA Sahal Mahfudz Al Hajaini.

    Mereka yang bisa di sebut sebagai bapak pesantren ini tidak hanya di akui kualitas intelektualnya di nusantara, namun juga di manca negara. Bahkan, terkhusus Syeikh Nawawi Al Bantani, namanya di abadikan sebagai salah satu dari dua tokoh indonesia bersama Soekarno, di dalam kamus al munjid yang ketokohan dan kepopuleranya setaraf dengan tokoh tokoh dunia.

  Syeikh Nawawi Al-Bantani memang sangat fenomenal ketokohanya. Konon, ia pernah di deportasi dari haramain karena bisa di bilang kecemburuan ulama setempat atas prestasi dan karir akademisnya sebagai pengajar di masjidil haram. Kepulanganya ke banten sempat membuat resah penguasa (imam) haramain saat itu, “Syeikh Aun Al-Rafiq” yang membawahi dan mempunyai otoritas dalam penunjukan pengajar dan imam di masjidil haram. Karena banyaknya desakan dan dari para pelajar di haramaian yang menghendaki agar syekh nawawi di perbolehkan kembali mengajar mereka. Akhirnya Syekh Nawawi di panggil kembali dengan persyaratan ia mampu menjawab pertanyaan “gampang-gampang susah” yang dirumuskan para ulama’ haramain yang tercantum dalam surat panggilan itu.

  Menurut cerita Syeikh Muslih Al-Maraqi, Murid Syeikh Yasin Al-Fadani dalam surat panggilan yang berisi satu halaman itu di sebutkan Syeikh Nawawi Al Bantani harus bisa menjawab pertanyaan seputar makna gramatikal dan leksikal dari kata “la-siyama”. Surat panggilan itu, oleh syeikh nawawi di balas dengan lima belas halaman. Hanya untuk menjabarkan secara tuntas tentang asal-usul kata, kedudukan i’rab, sekaligus makna dari kata “la-siyama” tersebut.

  Surat balasan itu kemudian di uji oleh banyak ulama haramain. Hasilnya mereka mengakui bahwa syeikh nawawi memang menguasai ilmu keislaman secara multidisipliner, sehingga hasil karyanya layak di sejajarkan dengan karya ulama’ timur tengah. Beliaupun di angkat kembali menjadi pengajar di masjidil haram dalam kuliah madzhab syafi’i. Semenjak peristiwa itu, kepopuleran syeikh nawawi semakin meroket. Praksis di eranya, Syeikh Nawawi Al-Bantani pernah merepresentasikan sebagai pioner madzhab syafi’i yang di segani ulama’ dunia.

  Syeikh Nawawi Al Bantani adalah contoh sekaligus bukti bahwa ulama islam pinggiran - Seperti Indonesia – sebetulnya tidak terlalu ketinggalan jauh secara intelektual dari pusat negara islam. Dari hal ini sebenarnya eksplorasi dan pengkajian intelektualisme pesantren menjadi penting sebenarnya, terlebih lagi jika memperhatikan penuturan Azyumardi Azra yang pernah menjelaskan ada sekapal kitab dan karya ulama’ madura yang terdampar di singapura. Kalau saja ulama’ madura saja mempunyai sekapal kitab, lantas bagaimana dengan ulama jawa, sumatera, kalimantan dan daerah lainya di nusantara ??

Giamana woyyy !!! J

__

Oleh lerespati Dari berbagai referensi buku dan video.

    

 

Tags :

bm

Syadad Kaisinnabil

Seo Construction

I like to make cool and creative designs. My design stash is always full of refreshing ideas. Feel free to take a look around my Vcard.

  • Syadad Kaisinnabil
  • Februari 24, 1989
  • 1220 Manado Trans Sulawesi
  • contact@example.com
  • +123 456 789 111

Posting Komentar