BIARKAN PESANTREN TETAP MENJADI DUNIA LAIN INDONESIA
BIARKAN PESANTREN TETAP MENJADI DUNIA LAIN
INDONESIA
![]() |
Ciri khas yang paling
mencolok dalam tradisi intelektual pesantren adalah jaringan, silsilah, sanad,
ataupun genealogi musalsal untuk menetukan tingkat efisoterisitas dan kualitas
ke’ulamaan seorang intelektualis. Hal ini pula yang membedakan tradisi
intelektual pesantren dengan misalnya tradisi intelektual di lingkungan kampus
dan bahkan lembaga pendidikan islam lainya. Tradisi intelektual semacam ini
bisa atau boleh di bilang melampaui batas linieritas eksotologis pengetahuan
keislaman, yang biasa di sebut dengan ‘ilm al jaliy oleh pengkaji
pemikiran lbn al-qayyim al-jauziyyah.
Hal ini cukup bisa di
maklumi, mengingat tingkat eksotologis intelektual pesantren, selain menekankan
sisi faktual ontropogesis pengetahuanya, juga sedikit banyak menyisipkan sisi
efisetorisitas intelektual. Dengan demikian dalam tradisi pesantren, orang yang
pandai agama tidak serta merta di sebut kiai atau ulama’, kalau ilmunya tidak
jelas dari mana tendensi dan referensinya. Dan kalau di telusuri, hal ini
ternyata terpaut dengan psinsip
pengajaran pesantren, bahwa “man la syaikha lahu, fa syakhuhu as-syaithanu”,
meskipun ada buku. Mungkin hal
ini yang di sebut dengan primodialisme pesantran: tetapi yang jelas keberadaan
jaringan intelektual sangat menentukan penerimaan dan pengakuan massa terhadap
seorang ulama’ atau kiai. Hal ini di sebabkan penerimaan massa terhadap ajaran
kiai bukan hanya di landasi prinsip prinsip otentisitas, melainkan juga -yang
sebenarnya lebih penting- adalah orisinilitas pengetahuan yang di ajarkan.
Biasanya tanpa di verbalkan sekalipun, memang sudah ada semacam keharusan penjelasan
dari kiai dalam tradisi pesantren, misalnya kiai yang bersangkutan belajar
kepada siapa, guna bisa di pastikan bahwa ajaran yang di berikan memang
benar-benar bermuara kepada si ‘’empunya’’ otoritas agama. Begitupun tanpa
harus di minta, kiai biasanya juga menjelaskan ia pernah berguru dengan siapa
dan belajar apa kepadanya.
Untuk mempertahankan
tradisi ini, dalam discourse kekinian dan ke’ulamaan juga telah
di pasang “pagar-pagar pengamanan”, berupa rumus seseorang bisa di
katakan ‘alim. Yaitu karena memang belajar dan mempunyai guru yang biasa
di sibut oleh pengkaji pemikiran al-ghazali dengan al-ilmu bi
al-ta’allum. Atau seseorang bisa alim karena ladunni, atau
kepandaian yang langsung di anugerahkan tuhan kepada orang-orang terpilih, yang
dalam bahasa pengkaji al-ghazali biasa di sebut dengan al-ilmu bi
al-taqarrub. Yaitu ilmu yang di peroleh sebagai spiritual impact. Kepandaian
yang ke dua ini biasanya di miliki oleh keturunan kiai atau santri yang biasa
menjalani laku spiritual exercise atau yang biasa di sebut tirakatan.
Biasanya keturunan kiai yang mempunyai keahlian ini bisa di lihat dari perilaku
aneh dan cenderung mbedik di masa mudanya, tapi berubah total dengan
menjadi alim di masa dewasanya.
Hingga kini, bisa di
katakan belum ada yang dapat membuktikan secara empiris rahasia proses
kepandaian orang orang khass yang mempunyai kelebihan ilmu ladunni tersebut.
Namun yang pasti ajaran yang di bawakanya di anggap otentik layaknya kiai yang
memiliki jaringan intelektual. Walhasil, mereka bisa di terima di
lingkungan pesantren dan masuk ke dalam susunan pemyambung jaringan
intelektual, karena memang kepandaian seperti ini biasanya hanya di miliki
oleh keturunan kiai, atau orang orang majdzub, yang sudah barang tentu
mempunyai jaringan intelektual.
Secara umum, Genealogi
intelektualisme pesantren memang dapat di ketahui secara pasti. Dan jika ada
sebagian kecil kiai yang tidak di ketahui pasti genealogi intelektualnya,
mereka adalah golongan kiai yang memiliki ilmu ladunni. Dengan demikian,
presepsi yang menyebutkan tradisi intelektualisme pesantren sangat
memperhatikan aspek sanad, jaringan dan silsilah kelimuan memang benar adanya, laula
al-isnadu laqala man sya’a, ma sya’a.
Titik tekan inilah
yang sekaligus menjadikan studi tentang intelektualisme pesantren menjadi
pekerjaan yang tidak mudah. Hal ini di sebabkan, meskipun akar-akar tradisi
intelektualisme pesantren relatif sama dan
tradisional, namun ekspresi yang di tampilkan oleh tokoh pesantren
ternyata sangat beragam, sehingga melibatkan banyak elemen dan variabel
tertentu. Di dunia pesantren terdapat
misalnya, syekh siti jenar, hamzah fansuri, syamsuddin al sumaterani dan abd
al hamid abulug yang bisa di bilang secara ideologi berseberangan dengan walisongo,
nuruddin al raniri, maupun muhammad arsyad al banjari dan sebagainya. Di
mana masing masing kubu mempunyai jaringan tesendiri. Inilah yang menyebabkan
pelacakan jaringan intelektualisme pesantren menjadi tidak gampang.
Kesulitan itu kembali
bertambah di karenakan kajian intelektualisme pesantren tergolong bidang kajian
yang terlantar. Mungkin karena sudah terlanjur penyitraan pesantren sebagai komunitas
tradisional, sehingga kalaupun ada penelitian tokoh tokoh pesantren, hal
itu hanya hanya terbatas pada sudut pandang kapabilitas mereka berkontestasi di
panggung perpolitikan dan kekuasaan. Ini dapat di buktikan lebih banyaknya buku
dan karya-karya tentang tokoh pesantren dalam pergulatan politik dan kekuasaan
dari pada karya yang mengulas tentang jaringan intelektualisme pesantren.
Padahal kalau di kaji
secara mendalam jaringan intelektualisme pesantren sebetulnya sangat menarik. Bahkan
tidak menutup kemungkinan pekerjaan ilmiah ini juga membalikkan penyitraan
publik, kalau intelektualisme pesantren tidak sepenuhnya tradisional. Selain itu
juga bisa menepis asumsi adanya kesenjangan intelektual muslim nusantra dengan
dunia islam secara umum. Karena dalam sejarah intelektualisme pesantren, pernah
berdiri sederet tokoh sarungan,
tapi intelektualitasnya sangat berkaliber taraf internasional dan menjadi guru
besar di pusat islam, Haramain (makkah-madinah). Sebutlah Syeikh
Nawawi Al Bantani, Syeikh Mahfudz Al Termasi, Syeikh Yasin Al Fadani dan
lain sebagainya termasuk Murabbi Ruhina KH MA Sahal Mahfudz Al Hajaini.
Mereka yang bisa di
sebut sebagai bapak pesantren ini tidak hanya di akui kualitas
intelektualnya di nusantara, namun juga di manca negara. Bahkan, terkhusus Syeikh
Nawawi Al Bantani, namanya di abadikan sebagai salah satu dari dua tokoh
indonesia bersama Soekarno, di dalam kamus al munjid yang
ketokohan dan kepopuleranya setaraf dengan tokoh tokoh dunia.
Syeikh Nawawi
Al-Bantani memang sangat fenomenal ketokohanya. Konon, ia pernah di deportasi
dari haramain karena bisa di bilang kecemburuan ulama setempat atas prestasi
dan karir akademisnya sebagai pengajar di masjidil haram. Kepulanganya ke
banten sempat membuat resah penguasa (imam) haramain saat itu, “Syeikh Aun
Al-Rafiq” yang membawahi dan mempunyai otoritas dalam penunjukan pengajar
dan imam di masjidil haram. Karena banyaknya desakan dan dari para pelajar di
haramaian yang menghendaki agar syekh nawawi di perbolehkan kembali
mengajar mereka. Akhirnya Syekh Nawawi di panggil kembali dengan
persyaratan ia mampu menjawab pertanyaan “gampang-gampang susah” yang
dirumuskan para ulama’ haramain yang tercantum dalam surat panggilan itu.
Menurut cerita Syeikh
Muslih Al-Maraqi, Murid Syeikh Yasin Al-Fadani dalam surat panggilan yang
berisi satu halaman itu di sebutkan Syeikh Nawawi Al Bantani harus bisa
menjawab pertanyaan seputar makna gramatikal dan leksikal dari kata “la-siyama”.
Surat panggilan itu, oleh syeikh nawawi di balas dengan lima belas
halaman. Hanya untuk menjabarkan secara tuntas tentang asal-usul kata,
kedudukan i’rab, sekaligus makna dari kata “la-siyama” tersebut.
Surat balasan itu
kemudian di uji oleh banyak ulama haramain. Hasilnya mereka mengakui bahwa syeikh
nawawi memang menguasai ilmu keislaman secara multidisipliner,
sehingga hasil karyanya layak di sejajarkan dengan karya ulama’ timur tengah. Beliaupun
di angkat kembali menjadi pengajar di masjidil haram dalam kuliah madzhab
syafi’i. Semenjak peristiwa itu, kepopuleran syeikh nawawi semakin
meroket. Praksis di eranya, Syeikh Nawawi Al-Bantani pernah
merepresentasikan sebagai pioner madzhab syafi’i yang di segani ulama’ dunia.
Syeikh Nawawi Al
Bantani adalah contoh sekaligus bukti bahwa ulama islam pinggiran - Seperti
Indonesia – sebetulnya tidak terlalu ketinggalan jauh secara intelektual
dari pusat negara islam. Dari hal ini sebenarnya eksplorasi dan pengkajian
intelektualisme pesantren menjadi penting sebenarnya, terlebih lagi jika
memperhatikan penuturan Azyumardi Azra yang pernah menjelaskan ada
sekapal kitab dan karya ulama’ madura yang terdampar di singapura. Kalau saja
ulama’ madura saja mempunyai sekapal kitab, lantas bagaimana dengan ulama jawa,
sumatera, kalimantan dan daerah lainya di nusantara ??
Giamana woyyy !!! J
__
Oleh lerespati Dari berbagai referensi buku dan video.
Tags : kepesantrenan
Syadad Kaisinnabil
Seo Construction
I like to make cool and creative designs. My design stash is always full of refreshing ideas. Feel free to take a look around my Vcard.
- Syadad Kaisinnabil
- Februari 24, 1989
- 1220 Manado Trans Sulawesi
- contact@example.com
- +123 456 789 111

Posting Komentar