Nakhofu 'ala Corona ??
Suatu
ketika Khalifah Umar bin Khattab hendak berkunjung ke wilayah Suriah. Namun di
tengah perjalanan, terdengar kabar bahwa Suriah tengah dilanda wabah
penyakit. Mendengar informasi tersebut, Khalifah bergelar al-Faruq ini menghentikan
perjalanan. Beliau di lema, antara melanjutkan perjalanan atau justru kembali
bertolak ke Madinah. Sang khalifah menggelar musyawarah. Seluruh rombongan
dimintai pendapat, apakah tetap melanjutkan perjalanan ke Suriah meski ada
wabah atau membatalkannya dan kembali ke Madinah?
Sebagian
kaum Muhajirin berpendapat kalau Khalifah Umar bin Khattab dan rombongan harus
meneruskan perjalanan. Alasannya, sedari awal tekad sang Khalifah Umar bin
Khattab dan rombongan sudah bulat untuk berkunjung. Niat mulia ini harus
direalisasikan, imbuh mereka. Kebulatan tekad ini tentu tidak patut kalau
diurungkan.
Sebagian
kaum Muhajirin yang lain berpendapat lain, mereka berpendapat sebaiknya
Khalifah Umar bin Khattab dan rombongan yang terdiri dari para sahabat Rasulullah
harus membatalkan perjalanannya. Mereka melarang Khalifah Umar dan rombongan
untuk memasuki wilayah yang tengah dillanda wabah penyakit.
Tidak
hanya itu, Khalifah Umar bin Khattab juga meminta pendapat dari kaum Anshar.
Sama seperti kaum Muhajirin sebelumnya, kaum Anshar juga berbeda pendapat.
Sebagian kaum Anshar juga berpendapat bahwa sang khalifah harus tetap
melanjutkan perjalanan. Sebagian lainnya mengusulkan agar sang khalifah
membatalkannya.
Masih belum puas dengan pendapat
sahabat Anshar dan Muhajirin, Khalifah Umar menggelar musyawarah dengan para
sesepuh Quraisy yang berhijrah pada saat Fathu Makkah.
Sesepuh Quraisy menyarankan agar beliau dan rombongan untuk kembali ke
Madinah. Mereka berkata:
نرى أن ترجع بالناس ولا تقدمهم على هذا الوباء
“Hemat
kami, (sebaiknya) anda kembali bersama romobongan, jangan ke (suriah) yang
sedang dilanda wabah“
Setelah
mendapat masukan dari para sesepuh Quraisy, Khalifah Umar memutuskan untuk
membatalkan agenda kunjungannya ke Suriah.
Keputusan
Khalifah Umar tersebut tidak serta merta diterima begitu saja. Seakan tidak
terima dengan keputusan sang khalifah, salah seorang sahabat protes. Dia lah
Abu Ubaidah bin Jarrah, seorang panglima kaum Muslim saat itu.
أفراراً من قدر اللَّه
“Apakah engkau melarikan diri dari ketentuan Allah?” tanya
Abu Ubaidah bin Jarrah kepada Khalifah Umar.
Khalifah
Umar menjawab,
نعم نفر من قدر اللَّه إلى قدر اللَّه
Iya betul, kami melarikan diri dari takdir Allah Swt menuju
takdir-Nya yang lain.
Kepada
Abu Ubaidah bin Jarrah, Khalifah Umar lantas memberikan perumpamaan
tentang ketentuan Allah dalam ungkpanannya;
أرأيت لو كان لك إبل فهبطت وادياً له عدوتان إحداهما خصبة والأخرى جدبة أليس إن رعيت الخصبة رعيتها بقدر اللَّه، وإن رعيت الجدبة رعيتها بقدر
Seandainya engkau memiliki sejumlah unta, kemudian ada dua tempat
untuk menggembala unta. Satunya hijau penuh tumbuh-tumbuhan dan yang satunya
(lagi) kering kerontang. Jika engkau menggembalakan unta-untamu di tempat
yang hijau, menurutmu bukankah itu karena ketentuan Allah? Demikian halnya
jika engkau menggembalakannya di tempat yang kering kerontang,” timpal balik sang khalifah.
Memperkuat argumentasi Sayyidina
Umar, Abdurrahman bin Auf menghampiri keduanya, lantas Ia menyampaikan sebuah
hadis muttafaq
‘alaih
إذا سمعتم به بأرض فلا تقدموا عليه، وإذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تخرجوا فراراً منه
Apabila kalian mendengar wabah di suatu negeri, janganlah kalian
masuk ke dalamnya. Namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian
berada di dalamnya, janganlah kalian keluar dari negeri tersebut(HR. al-Bukhari)
Mendengar
penjelasan tersebut di atas, Abu Ubaidah bin Jarrah dan rombongan lainnya
akhirnya memahami dan membetulkan keputusan Umar untuk kembali ke Madinah.
Jika
ditarik dalam konteks merebaknya virus korona saat ini, protes yang dilayangkan
Ubaidah bin Jarrah adalah simbol sikap sebagian muslim tanah air yang meragukan
kapasitas kepasrahan sebagian muslim lainnya kepada yang maha kuasa. Ubaidah
menentang keputusan untuk kembali ke Madinah karena mengisyaratkan bahwa sang
khalifah takut dengan wabah yang tengah menimpa masyarakat Suriah. Sikap takut
ini tentu tidak wajar bilamana terjadi pada sahabat nabi.
Ubaidah
seakan mengirim pesan kepada rombongan saat itu bahwa tidak perlu takut dengan
wabah apapun. Cukuplah Allah Swt tempat berlindung. Bilamana tuhan
menakdirkan kematian maka tidak perlu menunggu wabah apapun menjadi sebabnya.
Kemanapun kita berlari dan sembunyi, maut pasti menjemput.
Menyikapi
merebaknya virus covid-19, ada orang yang sangat PD dengan ketergantungannya
kepada tuhan tanpa ada ikhtiar. Menurutnya, semua urusan menjadi selesai dengan
sepenuhnya dipasrahkan kepada tuhan. Tanpa disadari penyakit fatalistik telah
merasuki sebagian dari kita. Di tengah epidemi corona seperti ini, teologi
fatalistik jelas bisa berakibat fatal. Mereka mengabaikan ikhtiar dan tindakan
antisipatif. Atas nama Tuhan, kita sama sekali tidak melakukan
tindakan-tindakan pencegahan sebagaimana yang disarakan berdasarkan protokol
medis.Memosisikan diri bak kapas ditiup angin. Pada posisi ini, kesombongan dan
kepasrahan menjadi sulit diterjemahkan.
Dalam
perspektif lainnya, bisa jadi tindakan Sayyidina Umar adalah representasi orang
yang bisa mendudukan secara proporsional antara iktiar manusia dan takdir
tuhan. Kompromi kuasa manusia dan takdir tuhan telah melahirkan wajah moderasi
Islam. Beliau tidak memposisikan ikhtiar manusia di atas kuasa tuhan, pun juga
sebaliknya, kuasa tuhan tidak mengabaikan usaha manusia. Dalam persoalan ini,
ada kompromi antara usaha manusia dengan takdir tuhan.
Dialognya
dengan Ubaidah bin Jarrah, Khalifah Umar memberikan perumpamaan yang sangat
apik tentang betapa kuasa manusia dalam menentukan pilih yang terbaik untuk
dirinya. Seekor unta bisa menjadi kenyang atau lapar bergantung dari ikhtiar
empunya. Dalam dialog tersebut, ada isyarah bahwa tuhan telah menyiapkan banyak
takdir untuk manusia. Manusia disuruh untuk memilih takdir-takdir tersebut
sesuai kecendrungannya sendiri. Menjadi orang yang cerdas atau bodoh adalah dua
pilihan takdir yang bisa dipilih oleh diri manusia sendiri. Akal manusia
memiliki kemampuan untuk memilih yang terbaik.
Mengabaikan
kuasa dan iktiar manusia membuat manusia menjadi jabariyah. Sebaliknya,
mengaibaikan kuasa tuhan membuat manusia menjadi qadariyah. Jalan tengah antara
jabariyah dan qadariyah melahirkan mazhab asy’ariyah. Manusia harus melakukan
ikhtiar karena tuhan telah memberikan kekuatan, namun kekuatan dan usaha
manusia di atas kekuasaan tuhan.
Dalam
kisah tersebut, secara tidak langsung khalifah kedua tersebut ingin mengatakan
kepada Ubaidah bin Jarrah, kita boleh mati namun sebab kematian tersebut tetap
kita yang mengikhtiarkan. Kesehatan dan keselamatan adalah tanggung jawab
kita sendiri. Tuhan tinggal ketok palu.
Waallahu A’lamu Bis-Shawab
Di sarikan dari aqwal ulama’ nahdhiyyin dan beberapa maraji’
mu’tamadah.
Tags : covid
Syadad Kaisinnabil
Seo Construction
I like to make cool and creative designs. My design stash is always full of refreshing ideas. Feel free to take a look around my Vcard.
- Syadad Kaisinnabil
- Februari 24, 1989
- 1220 Manado Trans Sulawesi
- contact@example.com
- +123 456 789 111

Siapp min
BalasHapus