Rabu, 14 Oktober 2020

Mengapa Tan Malaka mengaku muslim (beragama) sedangkan pemikirannya sendiri cenderung mengarah ke ateisme karena tentangannya pada logika mistika?

“Ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim, karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia! Jadi kami telah mengantarkan sebuah kekalahan pada para pemimpin mereka dengan Qur’an di tangan kita, dan di kongres kami tahun lalu kami telah memaksa para pemimpin mereka, melalui anggota mereka sendiri, untuk bekerjasama dengan kami,” 

     Ucap Tan Malaka dalam Kongres Komunis Internasional ke-4, pada tanggal 12 November 1922. Tan menyampaikan pidatonya mengenai Komunisme dan Pan-Islamisme.


Tan Malaka saat sedang berada di Komintern ke-4, 12 November 1922 ( Sumber : Skrip Pidato Tan Malaka di Kongres Komintern ke-4 Tanggal 12 November 1922 ).

  Pertama-tama karena Tan Malaka adalah seorang penganut paham Materialisme. Materialisme adalah pandangan yang beranggapan bahwa segala sesuatu yang benar-benar ada atau nyata adalah materi. Hal ini dapat dibuktikan melalui kutipan yang ia tulis dalam salah satu karyanya yang berjudul Aksi Massa ( 1926 ).

  Disana Tan mengatakan bahwa “Tetapi kamu orang Indonesia yang 55.000.000 tak kan mungkin merdeka selama kamu belum menghapuskan segala kotoran kesaktian itu dari kepalamu, selama kamu masih memuja kebudayaan kuno yang penuh dengan kepasifan, membatu, dan selama kamu bersemangat budak belia." Kotoran kesaktian yang dimaksud oleh Tan Malaka disini adalah takhayul dan percaya akan hal-hal ghaib, serta sifat pasrah pada nasib. Tan Malaka percaya bahwa sifat percaya pada logika mistika akan menciptakan mentalitas budak yang nantinya dapat menghambat perkembangan Indonesia.

   Tan Malaka akrab dengan banyak buku yang diciptakan oleh para filsuf sayap kiri, salah satunya adalah Friedrich Engels. Tan malaka mempercayai paham Engels yang mencampurkan paham materialisme dengan realisme. Materialisme adalah paham yang menyatakan bahwa yang ada adalah materi, berarti dapat disimpulkan bahwa tidak ada roh dalam pandangan Materialisme. Sementara realisme adalah ajaran filsafat menganggap suatu kebenaran adalah gambaran nyata atau salinan sebenarnya dari dunia realitas dari sebuah gagasan yang ada di pikiran seseorang ( Muhmidayeli 2011:108 ).

   Engels mencampurkan masalah "materialisme melawan metafisika" dengan masalah "realisme melawan idealisme". Dengan menegaskan bahwa berpikir secara materialis berarti bertolak belakang dengan realita dan bukan hanya dalam khayalan. Engels menyatakan bahwa materialisme mengakui adanya dunia luar sementara idealisme adalah sebatas kesadaran batin dan dunia luar merupakan buah dari pemikiran. Disini Engels menyamakan antara paham Materialisme dengan paham Idealisme yang sebenarnya merupakan akibat dari pemikiran dasarnya sendiri ( dan belum pernah dibuktikan sebelumnya, seperti kebanyakan metode filsafat lainnya yang sebenarnya memang tidak bisa dibuktikan. ) oleh sebab itu Engels menyamakan sikap yang mengakui bahwa adanya kenyataan diluar imajinasi si pemikir ( yang juga menjadi sikap para filsuf yang mengakui adanya Roh, yang berarti juga secara tidak langsung meyakini akan eksistensi Allah, karena bagi orang yang mengakui akan keberadaan Allah jelas berada di luar dan bahkan ada sebelum alam khayal manusia ) dengan materialisme yang hanya mengakui adanya materi.

     

Tan Malaka ( Sumber Gambar : Juru Kunci Tan Malaka - Tirto.ID )

    Tan Malaka sebenarnya tumbuh di lingkungan muslim yang taat, hal ini dapat dibuktikan melalui salah satu karyanya yang berjudul Islam dalam Tinjauan Madilog ( 1948 ):

"Saya lahir dalam keluarga Islam yang taat. Ibu bapak saya keduanya taat dan orang takut kepada Allah dan jalankan sabda Nabi"

     Tan malaka sendiri menganggap Islam sebagai agama dengan rasionalitas tinggi dengan kodrat revolusioner. Ia percaya bahwa islam merupakan alat yang tepat untuk melakukan perjuangan dan reformasi untuk bangsa Indonesia. Dan oleh karena itu ia sangat mempercayai konsep pembaharuan Islam. Hal tersebut yang menjadikan alasannya untuk bekerja sama dengan Sarekat Islam sebagai representasi dari Panislamisme.

    Singkatnya, Ideologi seseorang tidak dapat merepresentasikan agama pada setiap individunya. memang betul adanya bahwa Tan Malaka adalah seorang tokoh sayap kiri yang menganut marxisme, tetapi hal tersebut tidak membuatnya menjadi sesosok yang tak beragama . Bahkan terdapat sebuah jargon yang cukup terkenal pada zaman itu yang berbunyi: "Kami Islam se-islam-islamnya. Dalam menghadapi kapitalis, kami Marxis se-Marxis-Marxisnya."

Oleh: Khansa Ridwan

Sumber :

Tan Malaka : Aksi Massa ( 1926 )

Tan Malaka : Islam dalam Tinjauan Madilog ( 1948 )

Franz Magnis Suseno : Dalam Bayang-Bayang Lenin ( 2016 ) 

 

Tags :

bm

Syadad Kaisinnabil

Seo Construction

I like to make cool and creative designs. My design stash is always full of refreshing ideas. Feel free to take a look around my Vcard.

  • Syadad Kaisinnabil
  • Februari 24, 1989
  • 1220 Manado Trans Sulawesi
  • contact@example.com
  • +123 456 789 111

1 Reviews: