Mengapa Tan Malaka mengaku muslim (beragama) sedangkan pemikirannya sendiri cenderung mengarah ke ateisme karena tentangannya pada logika mistika?
“Ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim, karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia! Jadi kami telah mengantarkan sebuah kekalahan pada para pemimpin mereka dengan Qur’an di tangan kita, dan di kongres kami tahun lalu kami telah memaksa para pemimpin mereka, melalui anggota mereka sendiri, untuk bekerjasama dengan kami,”
Ucap Tan Malaka dalam Kongres Komunis Internasional ke-4, pada tanggal 12 November 1922. Tan menyampaikan pidatonya mengenai Komunisme dan Pan-Islamisme.
Tan Malaka saat sedang berada di
Komintern ke-4, 12 November 1922 ( Sumber : Skrip Pidato Tan Malaka di Kongres
Komintern ke-4 Tanggal 12 November 1922 ).
Pertama-tama karena Tan Malaka adalah seorang
penganut paham Materialisme. Materialisme adalah pandangan yang beranggapan
bahwa segala sesuatu yang benar-benar ada atau nyata adalah materi. Hal ini
dapat dibuktikan melalui kutipan yang ia tulis dalam salah satu karyanya yang
berjudul Aksi Massa ( 1926 ).
Disana
Tan mengatakan bahwa “Tetapi kamu orang Indonesia yang 55.000.000 tak
kan mungkin merdeka selama kamu belum menghapuskan segala kotoran kesaktian itu
dari kepalamu, selama kamu masih memuja kebudayaan kuno yang penuh dengan
kepasifan, membatu, dan selama kamu bersemangat budak belia." Kotoran
kesaktian yang dimaksud oleh Tan Malaka disini adalah takhayul dan percaya akan
hal-hal ghaib, serta sifat pasrah pada nasib. Tan Malaka percaya bahwa sifat percaya
pada logika mistika akan menciptakan mentalitas budak yang nantinya dapat
menghambat perkembangan Indonesia.
Tan
Malaka akrab dengan banyak buku yang diciptakan oleh para filsuf sayap kiri,
salah satunya adalah Friedrich Engels. Tan malaka mempercayai paham Engels yang
mencampurkan paham materialisme dengan realisme. Materialisme adalah paham yang
menyatakan bahwa yang ada adalah materi, berarti dapat disimpulkan bahwa tidak
ada roh dalam pandangan Materialisme. Sementara realisme adalah ajaran filsafat
menganggap suatu kebenaran adalah gambaran nyata atau salinan sebenarnya dari
dunia realitas dari sebuah gagasan yang ada di pikiran seseorang ( Muhmidayeli
2011:108 ).
Engels
mencampurkan masalah "materialisme melawan metafisika" dengan masalah
"realisme melawan idealisme". Dengan menegaskan bahwa berpikir secara
materialis berarti bertolak belakang dengan realita dan bukan hanya dalam
khayalan. Engels menyatakan bahwa materialisme mengakui adanya dunia luar
sementara idealisme adalah sebatas kesadaran batin dan dunia luar merupakan
buah dari pemikiran. Disini Engels menyamakan antara paham Materialisme dengan
paham Idealisme yang sebenarnya merupakan akibat dari pemikiran dasarnya
sendiri ( dan belum pernah dibuktikan sebelumnya, seperti kebanyakan metode
filsafat lainnya yang sebenarnya memang tidak bisa dibuktikan. ) oleh sebab itu
Engels menyamakan sikap yang mengakui bahwa adanya kenyataan diluar imajinasi
si pemikir ( yang juga menjadi sikap para filsuf yang mengakui adanya Roh, yang
berarti juga secara tidak langsung meyakini akan eksistensi Allah, karena bagi
orang yang mengakui akan keberadaan Allah jelas berada di luar dan bahkan ada
sebelum alam khayal manusia ) dengan materialisme yang hanya mengakui adanya
materi.
Tan Malaka ( Sumber Gambar : Juru Kunci Tan Malaka - Tirto.ID )
Tan
Malaka sebenarnya tumbuh di lingkungan muslim yang taat, hal ini dapat
dibuktikan melalui salah satu karyanya yang berjudul Islam dalam
Tinjauan Madilog ( 1948 ):
"Saya lahir dalam keluarga Islam
yang taat. Ibu bapak saya keduanya taat dan orang takut kepada Allah dan
jalankan sabda Nabi"
Tan
malaka sendiri menganggap Islam sebagai agama dengan rasionalitas tinggi dengan
kodrat revolusioner. Ia percaya bahwa islam merupakan alat yang tepat untuk
melakukan perjuangan dan reformasi untuk bangsa Indonesia. Dan oleh karena itu
ia sangat mempercayai konsep pembaharuan Islam. Hal tersebut yang menjadikan
alasannya untuk bekerja sama dengan Sarekat Islam sebagai representasi dari
Panislamisme.
Singkatnya,
Ideologi seseorang tidak dapat merepresentasikan agama pada setiap
individunya. memang betul adanya bahwa Tan Malaka adalah seorang tokoh
sayap kiri yang menganut marxisme, tetapi hal tersebut tidak membuatnya menjadi
sesosok yang tak beragama . Bahkan terdapat sebuah jargon yang cukup terkenal
pada zaman itu yang berbunyi: "Kami Islam se-islam-islamnya. Dalam
menghadapi kapitalis, kami Marxis se-Marxis-Marxisnya."
Oleh: Khansa Ridwan
Sumber :
Tan Malaka : Aksi Massa ( 1926
)
Tan Malaka : Islam dalam
Tinjauan Madilog ( 1948 )
Franz Magnis Suseno : Dalam
Bayang-Bayang Lenin ( 2016 )
Tags :
Syadad Kaisinnabil
Seo Construction
I like to make cool and creative designs. My design stash is always full of refreshing ideas. Feel free to take a look around my Vcard.
- Syadad Kaisinnabil
- Februari 24, 1989
- 1220 Manado Trans Sulawesi
- contact@example.com
- +123 456 789 111


Oke min
BalasHapus